Tambang Menjadi Napas Kehidupan Masyarakat

Sumber foto: Ilustarasi IST

Parigi Moutong seruanrakyat.onlineDi balik deru mesin-mesin raksasa dan kepulan debu yang sering kali dicap sebagai perusak alam, tersimpan sebuah denyut kehidupan yang jarang terdengar. Bagi sebagian orang, tambang mungkin dianggap sebagai “nista” sebuah luka di permukaan bumi yang membawa kerusakan.

Namun, bagi ratusan pasang tangan yang saban hari bergelut dengan lumpur dan batu, lubang-lubang galian itu adalah altar pengharapan.

Simbiosis di Perut Bumi, pagi itu, matahari baru saja mengintip di ufuk timur ketika suara linggis dan beradu dengan batu mulai bersahutan. Di sebuah kawasan pertambangan di pedalaman Nusantara, pemandangan unik tersaji. Tidak ada sekat tebal antara teknologi tinggi dan otot manusia. Di sana, penambang tradisional dan penambang moderen hidup berdampingan dalam sebuah harmoni yang tak tertulis.

Sebut saja Pak Jaka, seorang pria paruh baya dengan kulit yang ditempa matahari. Ia adalah satu dari ratusan penambang tradisional yang mengais rejeki di sela-sela area konsesi perusahaan besar. “Orang kota bilang ini merusak, tapi bagi kami, ini adalah cara agar dapur tetap mengepul dan anak bisa sekolah,” ujarnya sambil menyeka keringat.

Menariknya, kehadiran pengusaha tambang modern tidak lantas menggusur mereka. Sebaliknya, terjadi sebuah kerjasama organik. Pengusaha dengan alat beratnya membuka akses jalan dan mengupas lapisan tanah penutup yang keras, sementara para penambang tradisional memanfaatkan sisa-sisa material atau area marginal yang tidak terjangkau oleh alat raksasa.

Bahu-Membahu Mengais Rejeki
Kompak. Itulah kata yang tepat menggambarkan suasana di lapangan. Seringkali, operator excavator memberikan aba-aba ramah kepada para penambang manual agar menjauh sejenak saat alat bekerja demi keselamatan. Tak jarang pula, pihak perusahaan memberikan edukasi mengenai standar keselamatan kerja (K3) kepada para penambang rakyat ini.

Ini bukan lagi soal eksploitasi, melainkan tentang keberlangsungan ekonomi lokal. Keberadaan tambang menciptakan ekosistem yang menghidupi banyak mulut:
Warung-warung makan yang menjamur di sekitar lokasi.

Bengkel motor yang melayani kendaraan para pekerja.Pasar tradisional yang hidup karena daya beli masyarakat meningkat.

Menepis Stigma, Merajut Asa
Menistakan tambang tanpa melihat sisi kemanusiaan di dalamnya adalah sebuah ketimpangan perspektif. Memang benar, tantangan lingkungan adalah nyata dan harus diselesaikan dengan reklamasi yang bertanggung jawab.

Namun, menutup mata terhadap fakta bahwa tambang adalah tulang punggung ekonomi bagi ratusan kepala keluarga juga merupakan sebuah ketidakadilan.

Bagi para penambang tradisional, setiap bongkah mineral yang mereka temukan adalah simbol martabat. Mereka tidak meminta belas kasihan, mereka hanya meminta ruang untuk bekerja. Di bawah langit yang sama, si moderen dengan mesin canggihnya dan si tradisional dengan linggis karatnya, keduanya bersimbah peluh demi satu tujuan kehidupan yang lebih baik.

Saat senja tiba dan alat berat mulai berhenti menderu, para penambang tradisional berjalan pulang dengan punggung yang lelah namun hati yang penuh. Tambang yang sering dihujat itu, nyatanya, telah menjadi rahim yang melahirkan masa depan bagi anak-anak mereka.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses