Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan, Bupati Parimo Evaluasi Anggaran dan Sektor Pendidikan

Sumber foto: Istimewa

PARIGI MOUTONG, seruanrakyat.online– Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Parigi Moutong menggelar kegiatan Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati, Erwin Burase dan Abdul Sahid, di Auditorium Kantor Bupati Parigi Moutong pada Rabu malam 17 Juni 2026.

Kegiatan tersebut, menjadi momen evaluasi mendalam terhadap capaian dan tantangan selama setahun terakhir.

Dalam sambutannya, Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, menyampaikan bahwa program utama “Gerbang Desa” yang diusung untuk menunjang visi Parigi Moutong Maju, Mandiri, dan Berkelanjutan telah mulai berjalan dan disaksikan bersama melalui tayangan kilas balik.

​Meski demikian, Erwin menegaskan capaian tersebut belum mencakup keseluruhan target dan dirinya sangat terbuka terhadap masukan dari masyarakat.

​”Refleksi ini adalah cerminan evaluasi terhadap pemerintahan selama satu tahun, Hal-hal yang harus kita perbaiki dan kesalahan yang tidak perlu kita lakukan lagi. Tentu dengan adanya momen ini kita harus berbenah diri,” ujarnya

Ia menambahkan, refleksi satu tahun pemerintahan merupakan bentuk tanggung jawab moral dirinya bersama Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, para Asisten, pimpinan OPD, hingga tenaga ahli untuk terus meningkatkan kinerja.

​”Kalau ditanya puas, saya pertama yang menyatakan belum puas. Karena masih banyak tantangan yang harus kita lakukan, Visi, misi, dan program yang sudah disusun bersama tim perumus masih ada yang terpending dan terkendala dengan adanya efisiensi anggaran,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi keuangan daerah memaksa Pemda Parimo untuk meramu kembali dan membagi porsi anggaran secara ketat di berbagai bidang, mulai dari puluhan juta hingga miliaran rupiah untuk infrastruktur jalan.

Kata ia, tantangan ini kian berat mengingat luas geografis wilayah Parigi Moutong yang memiliki bentangan panjang hingga 512 kilometer, mencakup 23 kecamatan, serta 278 desa dan kelurahan.

Selain masalah anggaran, infrastruktur, dan pelayanan dasar, Bupati Erwin memberikan perhatian serius pada sektor pendidikan dan kemiskinan. Ia menyoroti Angka Tidak Sekolah (ATS) di Parigi Moutong yang dilaporkan masih sangat tinggi di tingkat Provinsi Sulawesi Tengah.

​”Tentunya menjadi evaluasi kita bersama, ATS
kita masih sangat tinggi di Sulawesi Tengah, ini merupakan tamparan bagi kita di bidang pendidikan,”ucapnya.

Meski demikian, Erwin menyebut ada kemungkinan data yang disajikan di tingkat provinsi merupakan data lama dari 5 atau 10 tahun lalu.

Untuk itu OPD terkait diharapkan, melakukan pendataan ulang yang lebih fokus dan akurat agar target pengentasan ATS bisa segera disimulasikan dan dipangkas hingga separuhnya.

Sementara itu, lanjut Erwin, angka kemiskinan daerah yang awalnya berada di angka 14,20 persen perlahan mulai mengalami penurunan sekitar satu persen.

Ia juga menargetkan ke depan, pemerintah daerah optimis bisa menekan angka kemiskinan tersebut hingga turun 5 persen, disesuaikan dengan kondisi keuangan saat ini.

Erwin mengungkapkan, APBD Parigi Moutong yang awalnya diproyeksikan sebesar Rp1,7 triliun menyusut menjadi Rp1,4 triliun karena berkurangnya Dana Alokasi Khusus (DAK) sekitar Rp300 miliar,” pungkasnya.

“Pentingnya kepala daerah untuk aktif “bergerilya” mencari dana transfer pusat.

Berdasarkan hasil konsultasinya dengan pimpinan badan terkait, H. Muhidin, saat ini porsi anggaran pusat lebih banyak ditransfer ke daerah secara selektif dan disesuaikan dengan program kerja Presiden.

​”Penyampaian beliau, sekarang kepala daerah di seluruh wilayah ini hampir semua aktif bergerilya di pemerintah pusat. Kita saat ini dituntut harus mampu meyakinkan pemerintah pusat agar anggaran itu bisa turun,” jelas Erwin.


​Erwin mengingatkan jajarannya bahwa kelengkapan data saja tidak lagi cukup untuk melobi pusat jika tidak dibarengi dengan kemampuan meyakinkan urgensi program tersebut bagi daerah.


​”Sedangkan data saja sudah lengkap tapi kita tidak mampu meyakinkan pemerintah pusat, kenapa ini kita butuhkan di daerah kita, dan apa dampaknya apabila program yang kita minta ini bisa turun di daerah kita—itu yang dibutuhkan pemerintah pusat,” tambahnya.

​Mengakhiri penyampaiannya, Erwin menyadari keterbatasan yang dimiliki dirinya bersama Wakil Bupati dalam memikirkan seluruh persoalan di wilayah yang sangat luas tersebut. Oleh karena itu, ia meminta ide-ide inovatif dari pimpinan OPD serta membuka ruang seluas-luasnya bagi laporan, pengaduan, maupun masukan dari seluruh komponen masyarakat.

​”Insya Allah tahun berikutnya saat kita melakukan refleksi lagi, sudah mengalami peningkatan-peningkatan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat kita,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses