SMPN Model Toniasa Parigi Minim Murid Baru

Tampak depan SMPN Model Toniasa Parigi, Sumber foto: Akbar

PARIGI MOUTONG, seruanrakyat.online-Penerapan sistem zonasi untuk penerimaan murid baru masih menjadi kendala bagi sebagian sekolah, salah satunya SMP Negeri Model Toniasa Parigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), yang minim pendaftaran murid baru.

“Padahal sistem zonasi ini dirancang untuk mewujudkan pemerataan akses dan kualitas pendidikan sesuai kuota penerimaan murid baru,” ujar Kepala Sekolah SMPN Model Toniasa Parig, Jasirus Panjaitan, Senin 6 Juli 2026.

Ia menuturkan, sebelumnya pihak sekolah telah menargetkan jumlah penerimaan murid baru berada di kisaran 40 siswa yang dibagi menjadi dua rombel.

Namun, kata ia, jumlah murid yang melakukan pendaftar di SMPN Model hanya 14 orang, jauh dari target yang sudah ditentukan.

“Bahkan 14 pendaftar ini semuanya berasal dari luar wilayah zonasi, ada yang dari Kelurahan Loji, Desa Kayuboko, Pombolowo dan Baliara,” bebernya.

Ia menegaskan, khusus jalur zonasi berdasarkan domisili, tidak ada satupun murid yang masuk ke sekolah tersebut, padahal jarak tempat tinggal ke sekolah sangat dekat.

Ia juga menuturkan, untuk menarik minat para calon pendaftar, pihaknya telah berupaya melakukan sosialisasi dan publikasi melalui media sosial.

“Agar menarik minat para calon pendaftar, kami sudah melakukan sosialisasi, memasang baliho pendaftaran di tempat yang mudah dilihat para orang tua serta publikasi melalui media sosial, tetapi upaya tersebut belum membuahkan hasil yang maksimal,” ucapnya.

Ia menambahkan, di SMPN Model Toniasa Parigi telah menggratiskan beberapa seragam sekolah gratis, mulai dari baju batik hingga pakaian olahraga.

“Pembagian seragam sekolah gratis ini diluar dari bantuan pemerintah daerah, Hal ini merupakan bentuk perhatian sekolah dalam membantu meringankan beban orang tua untuk memenuhi kebutuhan pendidikan,” sebutnya.

Menaggapi Minimnya peserta didik baru di SMPN Model Toniasa Parigi, Disdikbud Pastikan Tidak Ada Penutupan Sekolah

Minimnya calon peserta didik baru yang mendaftar di SMPN Model Toniasa Parigi, menjadi ‘ mimpi buruk’ bagi pemerintah daerah khususnya Dinas Pendidikan dan Kebuadayaan (Disdikbud) Parigi Moutong.

Pasalanya, dari tahun ke tahun jumlah kouta penerimaan peserta didik baru tidak mencapai target yang sudah ditentukan oleh pihak sekolah. Hal tersebut berpotensi dilakukan penutupan.

Zonasi, afirmasi, perpindahan tugas orang tua, dan jalur prestasi.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Sekolah Menengah Pertama (SMP) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parimo, Sarwana S.E menekankan, walaupun jumlah peserta didik baru yang mendaftar hanya sedikit, proses belajar mengajar tetap berjalan.

“Tidak ada penutupan sekolah, kami akan mencari solusi agar jumlah peserta didik terus bertambah di SMPN Model,” ungkapnya.

Lanjut ia, penutupan sekolah terdapat syarat dan prosedur yang harus dilakukan. Apalagi para guru yang mengabdi di sekolah tersebut sudah memiliki sertifikasi.

Ia menambahkan, sampai dengan saat ini pihaknya masih terus memantau jumlah penyerapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).

“Apabila dari beberapa sekolah SMP I dan II
sudah memenuhi kuota, kami sarankan agar di alihkan ke sekolah SMPN Model berdasarkan  zonasi atau jalur domisili,” ungkapnya.

Lanjut ia, hal ini dilakukan agar pemerataan akses dan kualitas pendidikan bisa terpenuhi sesuai target yang ditentukan.

“Yang harus dihilangkan dari isi kepala orang orang tua murid adalah sekolah ‘vaforit’ tidak ada namanya sekolah vaforit, semuanya sama,” pungkasnya .

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses